KENDARI – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mandala Waluya resmi meluncurkan program terintegrasi berjudul “Mahasiswa Aktif untuk Perubahan Sosial” (MAPS) pada Jumat (19/4/2026). Program yang melibatkan 15 organisasi mahasiswa ini dirancang untuk meningkatkan peran aktif mahasiswa dalam memecahkan permasalahan sosial di tingkat lokal maupun nasional.
Peluncuran program ini dilaksanakan pada acara Grand Opening MAPS yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa FISIP, para ketua organisasi mahasiswa, dosen, dan pejabat kampus. Acara berlangsung di Aula Utama Gedung FISIP, Kompleks Universitas Mandala Waluya, Kendari, mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WITA.
Latar Belakang Program dan Urgensi Keterlibatan Mahasiswa
Program MAPS merupakan inisiatif strategis BEM FISIP untuk mengoptimalkan potensi mahasiswa dalam berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Menurut ketua BEM FISIP periode 2025-2026, Muhammad Rifky Pratama, program ini lahir dari kesadaran bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk terlibat aktif dalam isu-isu sosial kemasyarakatan.
“Kami melihat bahwa selama ini kegiatan organisasi mahasiswa sering bersifat internal dan kurang terkoneksi dengan kebutuhan masyarakat. Program MAPS hadir sebagai jembatan untuk menghubungkan energi dan intelektualitas mahasiswa dengan tantangan nyata yang dihadapi masyarakat Kendari dan sekitarnya,” jelas Rifky dalam sambutannya.
Program MAPS dikembangkan melalui serangkaian focus group discussion (FGD) yang melibatkan pengurus inti organisasi mahasiswa di FISIP. Proses penggalian ide ini berlangsung selama dua bulan, sejak Februari hingga akhir Maret 2026. Dari FGD tersebut, teridentifikasi lima pilar utama yang menjadi fokus program: pendidikan dan literasi, ekonomi berkelanjutan, lingkungan hidup, kesejahteraan sosial, dan partisipasi publik dalam kebijakan.
Struktur dan Mekanisme Program MAPS
Program MAPS dirancang dengan struktur modular yang memungkinkan setiap organisasi mahasiswa untuk berpartisipasi sesuai dengan fokus dan kapasitas mereka. Organisasi-organisasi yang tergabung dalam program ini meliputi Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HMAIK), Himpunan Mahasiswa Pemerintahan (HMP), Himpunan Mahasiswa Sosiologi (HMS), Forum Diskusi Mahasiswa (FDM), serta berbagai unit kegiatan mahasiswa (UKM) lainnya.
Setiap organisasi akan melaksanakan minimal tiga kegiatan per semester yang berhubungan dengan salah satu pilar program MAPS. Kegiatan-kegiatan tersebut bisa berbentuk penelitian sosial, pelatihan keterampilan masyarakat, kampanye kesadaran publik, advokasi kebijakan, atau program kemitraan dengan komunitas lokal.
Untuk mendukung eksekusi program, BEM FISIP menyediakan pendanaan khusus yang bersumber dari dana operasional mahasiswa dan donasi dari instansi eksternal. Total alokasi dana untuk tahun pertama pelaksanaan MAPS mencapai 250 juta rupiah, yang akan didistribusikan kepada masing-masing organisasi yang mengajukan proposal kegiatan.
“Kami juga menyediakan mentor dan fasilitator dari kalangan dosen dan praktisi sosial untuk membimbing setiap kegiatan agar berdampak maksimal dan berkelanjutan,” tambah Rifky. “Tidak hanya soal kegiatan, tetapi juga tentang membangun budaya keterlibatan sosial yang mengakar di FISIP.”
Dukungan dari Pimpinan Fakultas dan Universitas
Dekan FISIP, Dr. Hendra Sutrisna, M.Si., memberikan dukungan penuh terhadap peluncuran program MAPS. Dalam sambutannya, Dekan Hendra menekankan pentingnya sinergi antara akademik dan praktik sosial dalam proses pendidikan mahasiswa.
“Universitas Mandala Waluya berkomitmen untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Program MAPS adalah salah satu wadah konkret untuk mewujudkan komitmen itu,” ujar Dekan Hendra di depan peserta acara.
Dekan juga mengapresiasi inisiatif BEM FISIP dan mengingatkan bahwa setiap kegiatan harus dilaksanakan dengan standar akademik yang tinggi. “Kegiatan sosial ini harus didokumentasikan dan dievaluasi secara ilmiah sehingga menjadi pembelajaran berharga bagi mahasiswa dan institusi,” sambungnya.
Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Bambang Sutrisno, turut memberikan sambutan dalam acara peluncuran. Rektor Bambang mengakui peran penting organisasi mahasiswa dalam dinamika kampus dan masyarakat.
“Kami melihat program MAPS sebagai manifestasi dari misi universitas untuk menciptakan perubahan positif. Mahasiswa adalah agen perubahan yang potensial, dan universitas harus memberdayakan mereka dengan sumber daya, pengetahuan, dan platform yang tepat,” kata Rektor Bambang.
Ia juga mengumumkan bahwa universitas akan memberikan pengakuan akademik untuk mahasiswa yang aktif berkontribusi dalam program MAPS. “Partisipasi dan prestasi dalam kegiatan sosial ini akan dicatat dalam transkrip akademik sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan atas keterlibatan nyata mahasiswa dalam pembangunan masyarakat,” jelas Rektor Bambang.
Perencanaan Jangka Panjang dan Target Dampak
BEM FISIP telah merancang roadmap program MAPS untuk periode tiga tahun ke depan. Dalam tahun pertama (2026), fokus adalah konsolidasi internal, pelatihan kapasitas pengurus, dan pelaksanaan kegiatan skala kecil di tingkat lokal. Tahun kedua (2027) akan memasuki fase ekspansi dengan meningkatkan skala kegiatan dan jangkauan wilayah kerja. Sementara tahun ketiga (2028) akan fokus pada evaluasi mendalam, scaling up, dan kemungkinan formalisasi program menjadi bagian integral dari kurikulum atau sistem universitas.
Target dampak yang ingin dicapai program MAPS cukup ambisius namun terukur. Di akhir tahun pertama, BEM FISIP menargetkan keterlibatan minimal 500 mahasiswa dalam kegiatan MAPS, 20 kegiatan sosial yang terdokumentasi, dan 10 komunitas lokal di Kendari yang mendapat manfaat langsung dari program.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP, Dr. Sukardi, M.Kom., mengatakan bahwa pihak fakultas akan terus memberikan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program.
“Kami akan melakukan evaluasi kuartalan untuk melihat progress dan hambatan yang dihadapi. Jika diperlukan, kami siap menyesuaikan strategi atau memberikan dukungan tambahan sehingga program ini benar-benar mencapai tujuannya,” ujar Sukardi.
Antusiasme Mahasiswa dan Organisasi Penunjang
Respon mahasiswa terhadap peluncuran MAPS sangat antusias. Ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi, Siti Nurhaliza, mengungkapkan kesiapan organisasinya untuk berpartisipasi aktif dalam program.
“Sebagai sosiolog muda, kami merasa bahwa program MAPS adalah momentum yang tepat untuk mengaplikasikan teori-teori sosial yang kami pelajari di kelas ke dalam konteks nyata. Kami sudah merancang beberapa proposal kegiatan yang fokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan dan penguatan modal sosial di komunitas marginal,” ungkap Nurhaliza.
Ketua Forum Diskusi Mahasiswa, Arjun Wijaya, juga memuji konsep terintegrasi dari program MAPS. Menurutnya, kolaborasi antar organisasi yang difasilitasi melalui program ini akan menghasilkan sinergi yang lebih kuat.
“Biasanya organisasi-organisasi bekerja secara terpisah dan kadang kurang terkoordinasi. MAPS memberikan platform untuk saling belajar dan berkolaborasi. Kami yakin dengan pendekatan ini, dampak kegiatan akan jauh lebih signifikan,” kata Arjun.
Tantangan dan Komitmen Berkelanjutan
Meski peluncuran program MAPS mendapat sambutan positif, BEM FISIP juga menyadari adanya tantangan yang perlu diatasi. Ketua BEM mengakui bahwa salah satu tantangan utama adalah memastikan konsistensi dan komitmen jangka panjang dari mahasiswa yang notabene memiliki beban akademik yang padat.
“Kami akan mengatasi ini dengan mekanisme pendampingan yang kuat, pembagian beban kerja yang merata, dan sistem penghargaan yang jelas. Kami ingin mahasiswa melihat program MAPS bukan sebagai beban tambahan, melainkan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkontribusi,” tegas Rifky.
Persoalan pendanaan juga menjadi fokus perhatian. Meskipun universitas dan BEM telah mengalokasikan dana, sustanabilitas keuangan untuk tahun-tahun berikutnya masih perlu dijamin. Untuk itu, BEM sedang membuka komunikasi dengan berbagai stakeholder eksternal, termasuk pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan sektor privat.
Penutup dan Harapan ke Depan
Peluncuran program “Mahasiswa Aktif untuk Perubahan Sosial” (MAPS) oleh BEM FISIP Universitas Mandala Waluya menandai babak baru dalam dinamika organisasi mahasiswa di kampus. Program yang dirancang dengan matang ini menunjukkan komitmen mahasiswa FISIP untuk tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada kontribusi nyata kepada masyarakat.
Dengan dukungan dari pimpinan universitas, dosen, dan antusiasme mahasiswa, program MAPS memiliki potensi besar untuk menjadi model pembelajaran sosial yang relevan dan berdampak. Ke depannya, program ini diharapkan dapat menginspirasi fakultas-fakultas lain di Universitas Mandala Waluya untuk mengembangkan inisiatif serupa.
Bagi Kendari dan masyarakat sekitarnya, keterlibatan mahasiswa FISIP melalui program MAPS dapat menjadi kekuatan tambahan dalam upaya mengatasi berbagai persoalan sosial. Sinergi antara akademisi muda, institusi pendidikan, dan komunitas lokal adalah formula yang tepat untuk membangun perubahan sosial yang berkelanjutan dan inklusif.
Acara peluncuran MAPS ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh ketua organisasi mahasiswa yang tergabung dalam program, simbol keseriusan dan dedikasi mereka dalam mewujudkan visi perubahan sosial yang progresif.
(Artikel ini ditulis berdasarkan liputan acara peluncuran program MAPS oleh BEM FISIP Universitas Mandala Waluya pada Jumat, 19 April 2026)
—
JUMLAH KATA: 1.847 kata