KENDARI – Universitas Mandala Waluya, khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), mencapai prestasi gemilang pada tingkat nasional. Mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi, Nanda Putri Wijaya, berhasil meraih juara pertama dalam Kompetisi Jurnalisme Digital Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Jurnalis Indonesia (AJI) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kemarin, Selasa 16 April 2026.
Prestasi gemilang ini diraih Nanda melalui kategori liputan investigasi digital dengan karya berjudul “Jejak Ketidakadilan: Investigasi Pertambangan Ilegal di Wilayah Perbatasan Indonesia Timur.” Karya jurnalistik tersebut berhasil mengalahkan 847 peserta dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia. Pengumuman hasil kompetisi disampaikan secara resmi pada acara penutupan yang berlangsung di Jakarta Convention Center, dihadiri oleh para pemimpin media massa, akademisi, dan jajaran pemerintah.
“Ini adalah momen yang sangat bersejarah bagi FISIP Universitas Mandala Waluya dan seluruh civitas akademika kami di Kendari,” ujar Nanda Putri Wijaya dalam konferensi pers yang diadakan di Aula Utama Gedung Dekanat FISIP, Rabu 17 April 2026. Mahasiswa berusia 21 tahun asal Kolaka ini tampak bangga namun tetap rendah hati dalam menyampaikan keberhasilannya. “Saya berterima kasih kepada dosen pembimbing, keluarga, dan seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan jurnalistik saya selama ini. Karya ini bukan semata milik saya, tetapi hasil kolaborasi dari berbagai pihak yang percaya pada pentingnya jurnalisme investigatif yang bertanggung jawab,” tambahnya dengan suara yang penuh emosi.
Karya pemenang yang ditulis oleh Nanda merupakan hasil riset mendalam selama enam bulan. Investigasi tersebut mengungkap jaringan pertambangan ilegal yang melibatkan berbagai aktor, mulai dari pengusaha lokal, oknum pejabat pemerintah, hingga sindikat perdagangan sumber daya alam lintas negara di kawasan perbatasan Kalimantan dan Papua. Metodologi penelitian yang digunakan Nanda menggabungkan teknik jurnalisme modern dengan pendekatan akademik yang ketat, termasuk wawancara mendalam dengan lebih dari 50 narasumber, analisis dokumen, dan verifikasi data lapangan selama tiga bulan.
“Apa yang membuat karya Nanda istimewa adalah keberanian dan integritasnya dalam mengungkap fakta-fakta yang kompleks tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalisme yang etis,” jelas Dr. Muhammad Rifqi Pratama, S.Sos., M.Si., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Mandala Waluya dalam wawancara eksklusif. “Nanda telah membuktikan bahwa mahasiswa dari universitas daerah dapat bersaing dengan mahasiswa dari universitas-universitas besar di Jawa. Ini adalah bukti nyata bahwa kualitas pendidikan jurnalisme kami setara dengan institusi-institusi terkemuka lainnya.”
Menurut penjelasan Dr. Rifqi, kesuksesan Nanda bukan kebetulan semata. Program studi Ilmu Komunikasi FISIP telah mengembangkan kurikulum yang komprehensif dan relevan dengan perkembangan industri media kontemporer. “Kami menekankan pembelajaran praktik jurnalisme sejak semester awal, bukan hanya teori semata. Mahasiswa kami diajarkan untuk berpikir kritis, melakukan riset yang mendalam, dan memahami konteks sosial-politik di Indonesia, khususnya di kawasan timur Indonesia,” jelasnya sambil menunjukkan portfolio karya-karya jurnalistik mahasiswa lainnya yang juga telah dipublikasikan di media nasional.
Lebih lanjut, Dr. Rifqi menambahkan bahwa prestasi Nanda telah menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain di program studinya. “Setiap mahasiswa memiliki potensi untuk meraih pencapaian setinggi ini, asal mereka mau bekerja keras, berdisiplin, dan terus mengasah keterampilan mereka. Kami berkomitmen untuk terus mendorong dan membimbing mahasiswa dalam mengembangkan karya-karya jurnalistik berkualitas tinggi yang berkontribusi pada pembangunan masyarakat dan pemajuan demokrasi di Indonesia,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Direktur Sekolah Pascasarjana dan Pengembangan Karir Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Andi Suryaman, S.H., M.Si., juga memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pencapaian Nanda. “Prestasi Nanda mencerminkan dedikasi, kerja keras, dan integritas akademik yang kami tanamkan kepada setiap mahasiswa. Universitas Mandala Waluya bangga memiliki mahasiswa yang tidak hanya menguasai bidang ilmunya dengan baik, tetapi juga memiliki komitmen yang kuat untuk berkontribusi pada kehidupan masyarakat dan negara,” ujar Prof. Andi dalam rapat senat fakultas yang berlangsung Rabu siang kemarin.
Prof. Andi selanjutnya mengemukakan bahwa universitas akan memberikan penghargaan finansial dan akademik kepada Nanda sebagai bentuk dukungan terhadap perjalanan akademik dan profesionalnya ke depan. “Kami akan memberikan beasiswa penuh untuk menyelesaikan tugas akhir dan studi lanjutnya, serta kesempatan untuk menjadi asisten peneliti pada Pusat Studi Kebijakan Publik dan Media kami yang baru dibentuk. Kami percaya bahwa Nanda memiliki potensi besar untuk menjadi jurnalis dan akademisi yang berdampak,” tambahnya.
Prestasi Nanda juga mendapat apresiasi dari Dekan FISIP Universitas Mandala Waluya, Dr. Heriawan Basuki, Ph.D. “Ini adalah puncak dari kerja keras Nanda selama menjalani perkuliahan di FISIP. Saya telah mengamati perkembangannya sejak semester pertama, dan saya selalu melihat dedikasi yang luar biasa dalam setiap tugas yang diberikan. Nanda tidak pernah puas dengan hasil yang biasa-biasa saja, dia selalu ingin mencapai kesempurnaan. Itulah mengapa dia berhasil mencapai puncak prestasi ini,” ungkap Dr. Heriawan dalam percakapan singkat seusai konferensi pers.
Perjalanan Nanda menuju juara nasional dimulai sejak dia mengikuti workshop jurnalisme investigasi yang diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi pada Februari 2025. Dari sana, Nanda mulai mengembangkan minat khusus pada isu-isu lingkungan dan kebijakan publik. Dia kemudian memilih topik investigasi tentang pertambangan ilegal sebagai fokus penelitian untuk tugas akhirnya pada semester enam.
“Awalnya saya hanya ingin menulis tentang dampak lingkungan dari pertambangan ilegal, tetapi ketika saya mulai melakukan riset pendahuluan, saya menemukan bahwa ada cerita yang lebih besar dan lebih kompleks di balik fenomena tersebut,” cerita Nanda dalam sesi tanya jawab dengan wartawan. “Ada jaringan yang sistematis, ada mekanisme yang tersembunyi, ada aktor-aktor yang saling terhubung. Saya merasa memiliki tanggung jawab untuk mengungkap semuanya itu dengan cara yang paling transparan dan akurat mungkin, sambil tetap melindungi keselamatan narasumber saya.”
Proses penulisan karya jurnalistik tersebut bukan tanpa tantangan. Nanda mengungkapkan bahwa dia menghadapi hambatan akses data di lapangan, kekhawatiran akan keselamatan pribadi saat berada di wilayah operasi pertambangan ilegal, dan tantangan teknis dalam verifikasi informasi yang saling bertentangan dari berbagai sumber.
“Untuk mengatasi itu, saya bekerja sama dengan organisasi lingkungan lokal, melibatkan dosen pembimbing saya untuk memberikan guidance, dan selalu mengikuti protokol keselamatan yang ketat. Saya juga belajar menggunakan berbagai tools dan software untuk analisis data dan verifikasi informasi,” jelasnya.
Dosen pembimbing Nanda, Muhammad Firman, S.Sos., M.Comm., memuji pendekatan metodologi yang diterapkan mahasiswanya. “Nanda menunjukkan level kematangan penelitian yang jarang sekali saya temukan pada mahasiswa tingkat akhir. Dia memahami kompleksitas masalah, tidak melakukan generalisasi yang berlebihan, dan selalu memberikan konteks yang membantu pembaca memahami isu ini secara menyeluruh,” ungkap Firman yang juga adalah praktisi media dengan pengalaman lebih dari 15 tahun.
Jurnal jurnalisme nasional “Media Indonesia” dan “Kompas” telah mempublikasikan ringkasan karya Nanda dengan izin penuh dari Universitas Mandala Waluya. Publikasi ini meningkatkan visibility tidak hanya Nanda sebagai jurnalis muda berbakat, tetapi juga meningkatkan reputasi akademik Universitas Mandala Waluya di tingkat nasional.
Dampak dari prestasi ini sudah terlihat secara langsung. Beberapa media nasional dan internasional telah menghubungi Nanda untuk melakukan kolaborasi dan magang. Universitas Mandala Waluya juga menerima peningkatan antusiasme dari calon mahasiswa yang tertarik untuk bergabung dengan program studi Ilmu Komunikasi.
“Kami telah menerima lebih dari 200 pertanyaan dari calon siswa dan orang tua mereka mengenai program studi kami dalam tiga hari terakhir. Ini adalah indikasi bahwa prestasi Nanda telah membuka mata publik tentang kualitas pendidikan yang kami tawarkan di kampus Kendari,” ujar Dr. Rifqi dengan senyuman lebar.
Ke depannya, Nanda berencana untuk melanjutkan studi ke jenjang magister dalam bidang media studies di universitas top nasional atau internasional, sambil tetap aktif melakukan jurnalisme investigasi. “Saya ingin menggabungkan praktik jurnalisme dengan pemahaman akademik yang lebih dalam tentang media, demokrasi, dan kebijakan publik. Saya percaya bahwa jurnalisme adalah cara saya untuk berkontribusi pada perbaikan keadilan sosial dan lingkungan di Indonesia,” ujar Nanda dengan penuh semangat.
Universitas Mandala Waluya berkomitmen untuk terus mendukung mahasiswa berbakat seperti Nanda melalui pengembangan fasilitas, peningkatan kualitas dosen, dan penguatan jaringan dengan industri media nasional dan internasional. Prestasi Nanda membuktikan bahwa universitas di daerah dapat menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di level nasional dan internasional.
Dengan pencapaian ini, Universitas Mandala Waluya semakin solid dalam memposisikan dirinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan integritas mahasiswa untuk menjadi agen perubahan positif bagi masyarakat. (*/Red)
—
Catatan Redaksi: Kompetisi Jurnalisme Digital Nasional 2026 merupakan ajang bergengsi yang diadakan setiap tahun untuk mengidentifikasi dan mengapresiasi karya-karya jurnalistik berkualitas tinggi dari mahasiswa dan jurnalis muda di seluruh Indonesia.