Kendari – Universitas Mandala Waluya, khususnya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), menggelar acara spektakuler Festival Olahraga dan Seni Budaya 2026 pada hari Selasa hingga Kamis, 15–17 April 2026. Kegiatan yang melibatkan lebih dari 800 mahasiswa ini menjadi momentum penting bagi pengembangan softskill, kepemimpinan, dan apresiasi terhadap kekayaan budaya lokal Sulawesi Tenggara.
Bertempat di Lapangan Olahraga Universitas Mandala Waluya dan Aula Utama Kampus Kendari, festival ini menampilkan berbagai cabang olahraga tradisional dan modern, pertunjukan seni budaya, serta kompetisi akademik yang relevan dengan tema pengembangan karakter pemimpin muda Indonesia. Inisiatif ini menjadi wujud komitmen Fakultas FISIP terhadap pengembangan mahasiswa secara holistik, tidak hanya dari aspek akademik tetapi juga keterampilan sosial dan kepribadian.
Latar Belakang dan Tujuan Festival
Festival Olahraga dan Seni Budaya FISIP Universitas Mandala Waluya merupakan agenda tahunan yang telah diselenggarakan sejak 2019. Namun, edisi tahun 2026 ini menandai momentum khusus mengingat statusnya sebagai bagian dari perayaan Dies Natalis Universitas Mandala Waluya yang ke-32. Acara ini dirancang dengan cermat oleh Panitia Inti FISIP, melibatkan seluruh program studi yang ada di fakultas, yaitu Program Studi Ilmu Komunikasi, Ilmu Pemerintahan, dan Ilmu Administrasi Publik.
Menurut Dekan Fakultas FISIP Universitas Mandala Waluya, Dr. Ruslan Mochtar, M.Si., festival ini memiliki signifikansi pedagogis yang mendalam. “Kami percaya bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar transfer pengetahuan akademik, melainkan juga pembentukan karakter dan jiwa kepemimpinan. Melalui kegiatan olahraga dan seni budaya, mahasiswa belajar tentang kerja sama tim, disiplin, pengambilan keputusan cepat, dan apresiasi terhadap keragaman budaya. Ini semua adalah kompetensi esensial bagi calon pemimpin bangsa,” ujar Dr. Ruslan dalam wawancara khusus pada Senin, 14 April 2026.
Rangkaian Kegiatan dan Cabang Olahraga
Kegiatan festival dibagi menjadi tiga segmen utama: olahraga, seni budaya, dan seminar akademik. Pada segmen olahraga, panitia menyiapkan 12 cabang olahraga yang terdiri atas cabang-cabang tradisional dan modern. Cabang olahraga modern mencakup futsal, bola voli, badminton, tenis meja, dan bulutangkis yang dibagi berdasarkan kategori putri dan putra. Sementara itu, cabang olahraga tradisional menampilkan cukur rambut (permainan tradisional Sulawesi), sepak takraw, dan tarung derajat yang mencerminkan kekayaan budaya lokal.
“Kami sengaja memasukkan cabang olahraga tradisional untuk menggali kembali nilai-nilai luhur budaya kita. Generasi muda sering melupakan warisan nenek moyang karena terpukau dengan modernitas. Festival ini adalah upaya edukatif untuk menanamkan kembali kesadaran akan identitas budaya lokal,” jelas Ketua Panitia Festival, Muhammad Hafiz Pratama, mahasiswa tingkat akhir Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP, pada Rabu pagi, 15 April 2026.
Adapun segmen seni budaya menampilkan berbagai pertunjukan yang beragam. Terdapat penampilan tari tradisional Sulawesi Tenggara seperti Tari Poco-Poco, Tari Kipat, dan Tari Zapin yang dipertunjukkan oleh kelompok seni mahasiswa FISIP. Selain itu, ada pertunjukan musik modern dengan band-band mahasiswa, kompetisi puisi dan deklamasi, serta pameran karya seni visual dari mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi yang mengambil konsentrasi seni rupa dan desain grafis.
Tidak kalah menarik, panitia juga menyiapkan “Panggung Terbuka Seni Budaya” yang memberikan kesempatan kepada seluruh mahasiswa untuk menampilkan bakat mereka tanpa harus mengikuti kompetisi formal. “Kami ingin menciptakan suasana yang inklusif dan memberikan ruang bagi setiap mahasiswa untuk mengekspresikan diri mereka. Festival ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi tentang apresiasi terhadap proses kreatif dan kebersamaan,” ungkap Safriyani Rosmaini, Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FISIP.
Partisipasi dan Antusiasme Mahasiswa
Data pendaftaran menunjukkan tingkat antusiasme yang sangat tinggi dari mahasiswa FISIP. Dari total 1.200 mahasiswa aktif di Fakultas FISIP, sebanyak 847 mahasiswa telah mendaftarkan diri untuk mengikuti berbagai cabang dalam festival ini. Angka tersebut mencakup peserta dari semua tingkat akademik, mulai dari mahasiswa semester satu hingga semester delapan.
Siti Nurhaliza, mahasiswa tingkat tiga Program Studi Ilmu Pemerintahan, menjadi salah satu peserta yang antusias. “Saya ikut dalam tiga cabang olahraga dan juga bergabung dengan kelompok seni tari. Festival seperti ini sangat penting bagi saya karena memberikan pengalaman praktis dalam organisasi dan kolaborasi. Di kelas, saya belajar teori tentang komunikasi dan manajemen, tetapi di sini, saya bisa langsung mempraktikkannya,” kata Siti pada sela-sela acara penyerahan hadiah pada Kamis siang.
Dukungan dari dosen dan staf akademik juga sangat terlihat. Para dosen tidak hanya berperan sebagai pembimbing tetapi juga turut aktif mengawal kegiatan, memberikan masukan strategis, dan bahkan turut serta dalam beberapa acara pendampingan. “Kami melihat ini sebagai bagian integral dari kurikulum. Kegiatan ekstrakurikuler bukan sekadar tambahan, tetapi komplementer terhadap pembelajaran di kelas,” kata Dr. Bambang Sudarsono, M.A., dosen senior Program Studi Ilmu Komunikasi yang mendampingi kelompok seni pertunjukan.
Seminar Akademik dan Workshop
Selain olahraga dan seni budaya, panitia juga menyiapkan serangkaian seminar akademik dan workshop yang bertujuan mengasah keterampilan mahasiswa di bidang kepemimpinan, entrepreneurship, dan komunikasi publik. Seminar dibuka dengan topik “Kepemimpinan Muda dalam Konteks Transformasi Digital Sulawesi Tenggara” dengan narasumber Bapak Hartono Wijaya, S.E., M.M., praktisi bisnis dan pengusaha muda dari Kendari.
“Saya senang sekali diundang berbicara di forum ini. Yang saya lihat adalah antusiasme yang luar biasa dari generasi muda. Mereka tidak hanya ingin belajar, tetapi juga ingin berkontribusi nyata pada pembangunan daerah mereka. Ini adalah modal sosial yang sangat berharga,” kata Hartono dalam kesempatan tersebut.
Workshop juga mencakup pelatihan “Public Speaking dan Presentasi Efektif,” “Social Media Management untuk Pemerintah dan Organisasi Publik,” serta “Dokumentasi Visual dan Storytelling.” Kegiatan-kegiatan ini dirancang untuk memberikan practical skills yang dapat langsung diterapkan oleh mahasiswa baik dalam konteks akademik maupun profesional di masa depan.
Dampak pada Pengembangan Karakter dan Networking Mahasiswa
Menurut penelitian sederhana yang dilakukan oleh Tim Pengembangan Mahasiswa FISIP, kegiatan festival berdampak signifikan pada peningkatan kepercayaan diri, kemampuan komunikasi interpersonal, dan semangat kebersamaan di kalangan mahasiswa. Data kuisioner yang disebar kepada 200 peserta festival menunjukkan bahwa 94% responden merasa mendapat manfaat signifikan dari kegiatan ini.
Selain itu, festival juga menjadi sarana networking yang sangat berharga. Mahasiswa dari berbagai program studi berkesempatan untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, dan membangun koneksi yang dapat bermanfaat dalam karir profesional mereka di masa depan. “Jaringan adalah aset yang sangat penting dalam dunia profesional. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa kami memiliki kesempatan untuk membangun relasi yang autentik dan bermakna,” jelas Safriyani Rosmaini.
Penghargaan dan Apresiasi
Pada acara penutupan yang diselenggarakan pada Kamis sore, 17 April 2026, panitia memberikan penghargaan kepada berbagai pemenang dalam kategori olahraga dan seni budaya. Penghargaan tidak hanya diberikan kepada pemenang juara, tetapi juga kepada kelompok atau individu yang menunjukkan sportivitas, semangat, dan kreativitas luar biasa.
Tim futsal putri Program Studi Ilmu Komunikasi meraih juara pertama dalam cabang olahraga futsal putri. Dalam kategori seni budaya, pertunjukan tari tradisional dari kelompok mahasiswa Pemerintahan berhasil menarik perhatian juri dan audience dengan interpretasi kreatif terhadap tari Poco-Poco tradisional. Sementara itu, penampilan live music dari band mahasiswa yang diberi nama “Mandalaya Sound” mendapat standing ovation dari seluruh peserta acara.
Komitmen untuk Masa Depan
Menutup acara festival, Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Ir. Bambang Sukarno, M.Eng., menyampaikan apresiasi mendalam terhadap pelaksanaan festival yang berlangsung dengan sangat sukses dan inspiratif. “Festival ini membuktikan bahwa mahasiswa kita bukan hanya memiliki potensi akademik yang baik, tetapi juga semangat juang dan kreativitas yang tinggi. Saya yakin, generasi ini akan menjadi pemimpin dan penggerak perubahan positif di Sulawesi Tenggara dan Indonesia secara luas,” katanya dalam pidato penutupan.
Fakultas FISIP telah berkomitmen untuk menjadikan festival ini sebagai agenda rutin tahunan dan bahkan merencanakan ekspansi dengan melibatkan mahasiswa dari fakultas-fakultas lain di Universitas Mandala Waluya. “Kedepannya, kami ingin mengembangkan konsep ini menjadi festival universitas yang lebih besar dan lebih inklusif. Kami percaya bahwa olahraga dan seni budaya adalah bahasa universal yang dapat menyatukan semua orang dari berbagai latar belakang,” kata Dr. Ruslan Mochtar dalam sesi wawancara lanjutan.
Kesimpulan
Festival Olahraga dan Seni Budaya 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas FISIP Universitas Mandala Waluya telah melampaui ekspektasi awal sebagai sekadar kegiatan hiburan. Acara ini berhasil menciptakan ekosistem pembelajaran yang holistik, memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan karakter, membangun jaringan profesional, serta mengapresiasi kekayaan budaya lokal. Dengan tingkat partisipasi yang tinggi dan dampak positif yang terukur, festival ini menjadi model baik bagi pengembangan karakter mahasiswa di institusi pendidikan tinggi Indonesia, khususnya di kawasan Sulawesi Tenggara.
Keberhasilan ini juga merefleksikan komitmen Universitas Mandala Waluya, khususnya Fakultas FISIP, dalam menciptakan mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga bermoral, berjiwa kepemimpinan, dan memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai budaya dan kemanusiaan. Momentum ini diharapkan dapat terus dipertahankan dan dikembangkan di tahun-tahun mendatang.
(Artikel ini ditulis berdasarkan peliputan lapangan dan wawancara dengan berbagai narasumber dari Universitas Mandala Waluya pada 14–17 April 2026)
—
Penulis:
Jurnalis Kampus Universitas Mandala Waluya
Kendari, 17 April 2026